ROMANTICPURPLE VISUAL

Visualisasi dunia fotografi dan olah digital dari seorang Romanticpurple (His Photoblog)

One day with Wieke : My Favourite Model


Kira-kira satu minggu setelah kita melakukan hunting bareng dengan Astri sebagai model. Tidak sabar rasanya untuk melakukan sesi foto lagi di minggu berikutnya. Tapi masalah klise kembali muncul, siap minggu berikutnya ? Yang jelas aku nggak mau mengulang dengan model yang sama, pengen model baru. Akhirnya kita putar otak, bongkar stok-stok temen atau temennya temen yang memungkin untuk mau diajakin foto-foto. Tapi hasilnya masih saja nihil. Hingga suatu ketika, aku YM-an dengan teman lama namanya Wieke. Yang aku tahu pasti, nih cewek emang dasarnya udah kuat kalo jadi model foto, dia fotogenic dan juga udah sering di ajakin amat emen-temen fotografer lainnya yang jelas jauuuuh lebih jago dari aku. Setelah ngobrol-ngobroldengan dia, ternyata dia welcome banget dengan ajakan ku. Malahan dia ngerasa kenapa nggak dari dulu ngajakin dia, secara aku dan idham memang teman lamanya dia.


Aku pada sesi-sesi sebelumnya tidak terpikirkan sama sekali untuk mengajak Wiekesebagai model. Bisa jadi karena aku merasa Wieke masih dalam keadaan yang sibuk, dan aku nggak enak untuk mengganggunya. Nyatanya dia sangat antusias denganajakkanku. Dan itu yang membuatku semakin semangat.


Setelah bikin janji dengan Wieke, aku mengabari team huntingku dan menyampaikan kabar gembira ini. Kemudian kita membicarakan konsep apa yang aku kita pakai dan spot-spot mana saja yang akan kita gunakan. Akhirnya kita memutuskan untuk mencoba spot makam peneleh untuk pertama kalinya dengan menggunakan konsep gothic . Sedangkan untuk spot keduanya kita memanfaatkan Lapangan Pacuan Kuda Kenjeran baru yang memiliki hamparan rumput. Dan saat itu rumput-rumputnya lagi tinggi (nggak tinggi-tinggi amat sih), konsepnya santai ajah (bingung njelasinnya,hehe)

Untuk sesi foto bersama Wieke kali ini, kita setidaknya sedikit lebih terkonsep daripada foto sebelumnya. Dan spot-spot yang akan digunakan sudah diperhitungkan sebelumnya.



Sebelumnya ke T.K.P (Tempat kejadian pemotretan, wkwkw mekso) , kita terlebih dahulu ke rumahnya wieke. Disana kita sempat ngobrol-ngobrol lagi, menentukan wardrobe dan make up yang digunakan. Hehe untuk hal yang ini aku lebih menyerahkan kepada Menyon. Yuk ya cap cus. Berangkatlah kita ke makam peneleh.

Beberapa saat setelah kita menginjakkan kaki di peneleh dan mempersiapkan kamera yang akan kita gunakan, muncul "masalah" yang pernah aku dengar sebelumnya dari teman-teman fotografer lain. Datang seorang bapak-bapak, memperhatikan kita yang sedang foto-foto dan mempertanyakan "perijinan" kita. "Mas, foto-foto sudah ada ijinnya ?" , "Ijin apa pak ?" tanya kita balik. " Ijin dari pemkot kalo mau foto-foto disini ? ", busyet dah harus ijin pemkot yah ? Setahuku sih disini yang aku denger mah harus kasih uang upeti ke tuh orang. Cuma kita nyoba sok cuek gak mau ngasih aja. "Kita nggak ada ijin dari pemkot pak, kita orang sini juga koq" kata menyon. "Kalo nggak ada ijin nanti pemerintah belanda bisa marah" kata si Pak nya makin berkoar gak jelas. " Pak, rumahku tuh dideket sini, dibelakang sana " jawab Menyon. Tampaknya si Pak Gak-Jelas itu mulai kehabisan energi untuk berkoar, dan terpaksa merelakan kita foto-foto dengan gratis.


Lensa yang kugunakan masih tetap Canon 75-300, secara cuma itu lensa yang aku punya. Sehingga terpaksa harus pandai-pandai mengambil angle apabila kita berada di "jalur sempit" diantara makam. Dan banyak merelakan untuk ketutupan ama Idham dan Menyon, haha. Bagian yang menyenangkan dan lebih meringankan adalah, kita tidak perlu lagi repot repot untuk mengatur gaya sang model. Wieke sudah cukup lihai untuk berpose, dan kayaknya susah mati gaya. Oh iya aku juga spesial membawakan bunga mawar yang aku beli dari Pasar Kayun dengan maksud sebagai aksesoris pelengkap wieke. Sebenernya ada dua mawar, merah dan putih, cuman sayang kalo nggak salah mawar yang putih dah layu duluan dan udah gak karu-karuan bentuknya.

Nggak aku pungkiri, sampai sekarang Wieke memang model favoritku. Selain dia fotogenic, dan pandai berpose. Mungkin karena kita teman lama, sehingga selama proses pemotretan sangat seru, sangat santai dan nyaman penuh dengan canda tawa, bahkwa caci maki. Hahaha.



Setelah bosan dengan Peneleh, kita beranjak pergi menuju spot kedua yaitu Kenjeran baru. Begitu sampai di sana, aku terlebih dahulu mengecek TKP kita, yaitu lapangan pacuan kuda. Melihat spot mana yang sekirannya bisa digunakan, karena aku memang mengincar rumput-rumputnya yang rada tinggi.





Pose yang terakhir adalah memanfaatkan pasmina yang sudah kita bawa. Proses fotonya dilakukan berulang kali dan secara bergiliran . Hehe iya giliran sapa yang megangin ujung pasminanya Wieke dan melemparkannya. Bisa dilihat di atas hasil jepretanku, menurutku kurang wide. Yup, secara nasibku megang lensa tele, itu mundurnya udah gak karu-karuan hahaha. Selesai foto, kita makan pangsit dulu dan minum es degan yang ada di dekat lapangan tersebut.

Masih menanti kapan saat seperti itu datang lagi ..


Read more...

Session with Astri : Masih raw, sebuah tantangan.

Sebenarnya sesi foto dengan Model Astri ini sudah lama sekali. Karena ini merupakan sesi permata kali hunting barengku bersama Idham dan Menyon, maka patut untuk di kenang. Seperti malam malam sebelumnya (hehe) semua bermula dari keinginan untuk belajar memotret model. Yah beginilah nasib kami, setiap "napsu" ingin motret udah di ubun ubun kepala, musti jungkir balik sana sini untuk mencari model. Kalo Idham atau Menyon aku tanyain tentang pake model siapa? Semua jawabannya pasti sama, bingung mau ngajak siapa buat dijadiin model. Hingga suatu ketika aku bertemu dengan teman kampusku. Setelah speak-speak, sambil becanda-becanda dikit, eh ternyata nih anak mau jadi model. Maka perkenalkanlah, namanya Astri, teman kampusku. Dari hasil pembicaraan kita, nampaknya nih anak belum pernah diajakin buat jadi model foto-foto. Yah kalo buat aku siy, asal dia nggak paranoid ama lensaku yang panjang (hehe) fine-fine aja.


Aku sebenarnya malah suka sama model yang masih raw (mentah) kayak Astri ini, why ? Secara aku juga masih belajar, otomatis dia juga belajar juga buat pose. Kalo dia gak bsa pose, aku yang ngarahin, sekalian aku belajar ngarahin gaya. Tapi kalo dapet model yang experienced, ya bersyukur banget. Asal dia juga welcome ma kemampuan kita.


Akhirnya setelah di approve (facebook kaleee) ma si Astri, langsung aku kabarin teamku dan kita ngefix-kan jadwal. Pada hari H, kita berangkat dengan menggunakan mobilnya idham kemudian menjemput si model di kosannya. Begitu dia masuk ke mobil, langsung aku kenalin ke Idham, kalo ke Menyon gak perlu secara dia temen kuliahku juga. Baru deh pas didalem mobil, bingung milih wardrobe mana yang sebaiknya dipakai. Jujur nih, untuk sesi pertama kali ini aku secara pribadi nggak ada konsep apapun sama sekali, dan nggak ngatur wardrobe apa yang musti dipake. Ya bener-bener aku pasrahin ma model tentang wardrobe yang mau dia pake. Dan pertanyaan klise (yang bakalan selalu terjadi di hunting-hunting berikutnya, hahaha ) meluncur dari mulut Idham , " Foto-foto nya dimana dulu punk ? " . Jawabku "di kota lama, deket JMP !".


Dan sampailah kita di daerah kota lama, spot kita ini bukanlah di jalan gula yang sangat populer tersebut (bahkan saat itu aku sama sekali tidak tahu jalan gula itu disebelah mana). Turun dari mobil, dengan canggungnya kita berempat mengambil posisi masing2. Canggung? Ya soalnya spot yang pertama ada yang di deket jalan besar, keadaan masih ramai !. Aku ambil action, sok2 nyetting kamera, dan menjauh dari mereka, hehe. Yang perlu kamera yang aku gunakan ada Canon 40d, dan lensa yang kubawa (dan satu-satunya yang kumiliki) adalah canon 75-300 usm. Dan asyiknya aku dipinjemin ma idham lensa 70-200 L f4 nya. Yuhuu! Nyobain lensa putih pertama kali. Sama-sama tele siy, tapi entah kenapa koq lensanya dia ini susah banget makenya, speednya harus tinggi gara-gara LENSA nya berat ! Shaking mulu kalo pake speed rendah.


Foto-fotoku yang di jalan besar itu nampaknya tidak banyak yang berhasil. Karena ribet banget mau ngambil anglenya, jalan juga lagi rame. Mungkin juga karena si Astri masih dalam proses adaptasi, udah bingung mau gaya gimana, juga harus kikuk dengan keramaian yang ada. Dari spot itu cuma ada satu foto yang aku tampilkan, yaitu foto astri yang ku kasih sayap (hehe). Setelah stres dengan spot tersebut, anak-anak aku arahkan untuk masuk ke gang.

Beneran deh, aku ngerasa kalo aku ini kayak pelacak dan pencari spot. Soalnya saat itu kalo anak-anak aku diemin aja, bakalan selama-lamanya di spot itu. Mereka seperti selalu bingung mencari spot yang menarik (hehe.. dikirain aku nggak bingung? aku cuma sok ngerti aja koq, biar sekalian belajar mencari spot).


Setelah bosan foto-foto di daerah kota lama, kita memutuskan untuk cabut dari tempat itu. Dan tentu saja, mencari spot baru (yang belum kita tentukan dimana, hahaha). Putus asa dengan anak-anak yang tidak bisa memberikan ide, akhirnya aku ajak berhenti dijalan sebelah kantor kotamadya Surabaya. Disanakan banyak pohon-pohon rimbun, hanya saja kebetulan sudah mulai sore, matahari menembak langsung dari sebelah kiri jalan. Akhirnya aku manfaatkan untuk menghasilkan foto diatas. Foto potraitnya si Astri. Cuma bentar sih kita foto-foto disana, akhirnya kita langsung cabs tanpa tujuan lagi. Hahaha.

Spot terakhir kita adalah bawah jembatan viaduk gubeng (mudah2 gak salah namanya). Bener-bener ide dadakan nggak bayangain sama sekali bakalan foto-foto disini. Turun dari mobil, basa-basi ama pak satpam kantor yang kebetulan berada didepan tempat kita moto ini, trus kita moto-moto sambil diliatin pak nya.hehe. Aku masih dengan Lensa 70-200 L f.4 minjem idham, jadinya cuma bisa moto "close up" terus. Si Astri tampaknya juga udah lelah dan mati gaya, akhirnya aku ingetin untuk manfaatin aksesoris yang dia pake untuk bergaya juga, biar nggak mati gaya. Da berakhir sudah sesi foto kita bersama si Astri. Memang cukup kerasa banget kalo moto ama model raw, cape di ngarahin gayanya. Kasiannya lagi kalo dia nggak pede dengan gaya yang kita minta, hahaha. (nggak aku suruh copot baju koq :p).

Iseng iseng ngandid temen lagi moto.Itu si Idham.


Sesi foto tidak berakhir begitu saja,kita nemenin Idham dulu ke kampus nya buat ngumpulin tugas ujian dia, setelah itu kita makan bareng di Bu Kris Prapen, trus bobo bareng di rumah masing-masing. Hehehe. Thanks for reading ! Mampir lagi yach ^^v



*semua foto kecuali candid sudah kena postprocessing di PS.


Read more...

About Romanticpurple. An amateur "DSLR User".


Romanticpurple ? Pernah familiar dengan nama atau kata kata itu. Sebenarnya kata Romanticpurple aku ambil dari judul band shoegaze "The Milo". Karena kata katanya yang unik itu, akhirnya aku pakai sebagai nickname atau nama virtual di dunia internet. Kalo nama aslinya, Ipunk.

Dunia fotografi sudah menjadi daya tarik bagiku sejak masa SMA. Awalnya sih cuman suka jepret sana sini pake kamera poket film, akhirnya setelah jaman digital di mulai aku mulai menggunakan kamera poket digital (biasanya disebut digicam, tul nggak ?). Baru pada masa kuliah ini, punya kesempatan untuk memiliki Digital SLR, tentu saja dibeli dengan harga yang nggak murah. Secara masih awal-awalnya DSLR berkeliaran, belum booming banget kayak sekarang (hehe, sekarang juga nggak murah sih).

Pada awalnya kamera DSLR yang aku gunakan adalah Canon 350d. Sebuah kamera DSLR entry level canon, tapi cukup memuaskan dan saat berguna untuk para peminat baru dunia fotografi. Sebenernya aku berencana mau beli Nikon D70 saat itu, tapi huiiihh.. harganya selisih 1 juta ama si 350d. Nggak deh jadinya. Setelah satu tahun melewati masa-masa indah bersama 350d tercinta, akhirnya rela kulepaskan karena tergiur dengan tongolan baru dari barisan dslr canon. Yap! Aku akhirnya memutuskan untuk membeli Canon 40d, ada beberapa alasan kenapa aku membelinya diantaranya adalah karena body nya yang lebih besar (lebih gagah donk), Megapixel lebih besar, ada sensor cleaning, dan live view.

Memang dengan perkembangan dunia digital ini, semakin memudahkan orang-orang untuk menyandang title fotografer . Ada yang orang yang bilang "
Cukup beli DSLR, maka otomatis orang itu udah menjadi fotografer". Sehingga ada saja orang yang memandang kalo fotografi itu adalah hal yang mudah, cuma ngintip di viewfinder, settingan asal/auto, pencet shutter, trus tinggal liat hasil di LCD. Padahal dibalik itu, masih banyak hal yang bisa dipelajari. "Jika memang mau dan tertarik untuk belajar, hehe." . Tidak aku pungkiri, aku juga masih dalam posisi belajar dan tidak berani bangga dengan kata "fotografer", karena yaitu.. masih belum punya karya yang bisa di banggakan !. Jadi lebih suka menyadang title "DSLR user" saja dari pada "Fotografer", belum saatnya.

Sekali lagi aku nyatakan, aku merasa kata fotografer diberikan hanya kepada orang yang dalam kegiatan fotografi nya menekankan nilai seni dan penggunaan teknik secara benar dalam setiap karyanya, lebih sip lagi tuh orang juga menjadikan fotografi sebagai PROFESI !.


Tapi kalo aku dibilang Photoshopper, gak masalah ! Adobe Photoshop emang addictive, buat explorasi olah digital hasil foto-foto kita. Mungkin aku masih terlalu "kuat" di photoshopnya ketimbang ilmu fotografinya. Tentu saja, karena aku sudah jauh lebih dahulu bermain dengan photoshop sebelum benar-benar mendalami fotografi. Kalo diinget-inget dulu pas awal maen photoshop, sukanya maenan plugin (plugin loh ya, bukan filter default dari PS) soalnya enak bisa langsung jadi, gak usah berat-berat mikirnya. Tapi sekarang dah nggak pernah, lebih suka berepot-repot ria dengan mengutak atik seluruh adjustment dan filter default yang ada di PS.


"Fotografi seakan-akan tidak bisa lepas dari sentuhan olah digital, minimal untuk koreksi warna atau kroping"


Yah itu sebagian cerita tentang diriku, selamat menikmati blog ini =)

*Thanks buat Lia Ratih yang dah ngasih masukan kepada untuk membuat photoblog. ^^v



Read more...

    Recent Posts